Stable, blockchain Layer 1 yang didukung oleh raksasa stablecoin global Tether, baru saja mengumumkan di platform sosial X bahwa fase kedua dari kampanye pra-deposit akan resmi dimulai pekan depan.
Pengumuman tersebut menyoroti bahwa fase baru ini akan memperkenalkan serangkaian pembatasan, termasuk hitung mundur 24 jam, batas tetap pada total deposit, limit deposit per dompet individu, serta persyaratan partisipasi khusus untuk dompet tertentu. Perubahan aturan ini secara langsung menanggapi kontroversi "monopoli whale" yang muncul selama fase pertama kampanye.
01 Peta Jalan Tiga Fase: Membangun Jalan Tol Finansial Tether
Visi ambisius di balik proyek Stable telah diuraikan secara mendalam oleh ForesightNews pada awal Juli. Stable bukanlah proyek blockchain publik biasa; ia merupakan langkah strategis Tether untuk lepas dari ketergantungan pada platform pihak ketiga seperti Ethereum dan Tron, serta membangun infrastruktur finansialnya sendiri.
Meski model bisnis Tether menghasilkan laba miliaran dolar setiap tahun, perusahaan ini menghadapi "tumit Achilles"—kebocoran nilai.
Sebagai "penyewa" di blockchain milik pihak lain, Tether membawa volume transaksi dan pengguna dalam jumlah besar ke jaringan seperti Tron, namun tidak dapat menangkap seluruh nilai yang dihasilkan, dan harus membayar "sewa" yang cukup besar kepada platform tersebut.
Solusi Stable adalah membangun jaringan Layer 1 khusus dengan USDT sebagai token gas native. Peta jalan teknisnya terbagi dalam tiga fase utama:
Fase pertama memungkinkan pembayaran biaya gas menggunakan USDT dan konfirmasi blok dalam hitungan detik; fase kedua memastikan ruang blok untuk pembayaran skala perusahaan; dan fase ketiga berfokus pada pengembangan alat bagi developer serta peningkatan performa.
Desain ini bertujuan mengubah kerajaan stablecoin Tether dari "super app" yang beroperasi di wilayah asing menjadi operator infrastruktur mandiri dengan kedaulatan penuh.
02 Ambisi Imperium Tether: Dari Parasitik Menuju Strategi Otonom
Laporan keuangan terbaru Tether menegaskan kekuatannya—dengan proyeksi laba bersih mendekati USD 15 miliar pada 2025, Tether menjadi salah satu entitas paling menguntungkan di dunia kripto.
Mengapa perusahaan yang begitu sukses ingin mengubah status quo? Motivasinya terletak pada risiko platform yang signifikan.
Data menunjukkan bahwa suplai USDT yang beredar di jaringan Tron telah melampaui USD 80 miliar, mencakup sekitar setengah dari total suplai USDT. Ketergantungan mendalam ini membuat "urat nadi" Tether sangat dikendalikan oleh "pemilik lahan".
Yang lebih mengkhawatirkan, Tron tampaknya tengah mengembangkan stablecoin sendiri, USD1, yang kabarnya terkait dengan keluarga Trump—secara efektif membesarkan pesaing langsung di kanal distribusi terpenting Tether.
Pada akhir Juli, proyek Stable berhasil menyelesaikan putaran pendanaan awal senilai USD 28 juta yang dipimpin oleh Bitfinex dan Hack VC.
Investor ternama lainnya meliputi Franklin Templeton, Castle Island Ventures, dan KuCoin Ventures, serta CEO Tether Paolo Ardoino sendiri. Daftar pendukung yang impresif ini mencerminkan kepercayaan pasar yang kuat terhadap proyek tersebut.
03 Kampanye Pra-Deposit: Dari Kontroversi Menuju Perbaikan
Fase pertama kampanye pra-deposit Stable menunjukkan antusiasme komunitas, namun juga memicu kontroversi yang cukup besar.
Pekan lalu, batas USD 825 juta untuk fase pertama tercapai hanya dalam waktu sekitar 22 menit setelah dibuka. Meski kecepatannya luar biasa, kontroversi utama terletak pada aspek keadilan alokasi.
Beberapa pengguna X menuding adanya "transaksi preemptive", dengan data on-chain menunjukkan bahwa sebagian besar deposit berasal dari segelintir klaster dompet besar yang memindahkan dana sebelum pengumuman resmi.
Anggota komunitas kripto mengeluhkan bahwa hal ini menyisakan ruang yang sangat kecil bagi partisipan ritel biasa.
Analisis AI dari BlockBeats mengungkapkan tingkat keparahan masalah: data on-chain menunjukkan lebih dari 70% deposit terjadi sebelum pengumuman resmi, dengan klaster yang terhubung langsung ke pemilik Vault proyek melakukan deposit hingga 500 juta USDT.
Aktivitas insider yang tampak jelas ini telah merusak kredibilitas proyek secara serius.
Sebagai respons atas reaksi keras komunitas, Stable memperkenalkan aturan yang lebih ketat untuk fase kedua. Selain batas total deposit yang tetap, akan diterapkan limit deposit per dompet dan persyaratan partisipasi khusus bagi dompet.
Langkah-langkah ini bertujuan mencegah dominasi deposit oleh segelintir dompet whale dan menciptakan ruang partisipasi yang lebih luas bagi komunitas.
04 Prospek: Peluang dan Tantangan di Depan
Peluncuran proyek Stable terjadi di tengah pertumbuhan pesat pasar stablecoin. Pada 2025, total pasar stablecoin telah berkembang hingga sekitar USD 316 miliar.
Tether memegang posisi dominan, dengan kapitalisasi pasar USDT mencapai sekitar USD 183,13 miliar.
Sebagai blockchain Layer 1 yang berfokus pada transaksi stablecoin, Stable bertujuan membangun jaringan berperforma tinggi yang dioptimalkan untuk pembayaran USDT dan aplikasi terdesentralisasi.
Stable memungkinkan pengguna membayar biaya transaksi dengan USDT sebagai token native dan menawarkan transfer USDT peer-to-peer tanpa gas.
Namun, proyek ini menghadapi tantangan besar. Pertama adalah membangun kembali kepercayaan—kontroversi pada fase pertama kampanye pra-deposit telah merusak reputasi, dan efektivitas aturan baru di fase kedua dalam mencegah masalah serupa masih perlu dibuktikan.
Tantangan kedua adalah lingkungan regulasi. Tether telah lama berada di bawah pengawasan regulator global, dan menurut Ainvest, ketiadaan audit pihak ketiga tetap menjadi risiko kredibilitas utama.
Sementara itu, Kongres AS tengah mengajukan "GENIUS Act", yang berpotensi membawa dampak besar bagi seluruh industri stablecoin.
Terlepas dari tantangan tersebut, potensi jangka panjang Stable sangatlah besar. Seiring stablecoin semakin penting dalam pembayaran global dan DeFi, blockchain berperforma tinggi yang dioptimalkan untuk transaksi stablecoin berpeluang menangkap nilai pasar yang signifikan.
05 Kesimpulan: Fondasi Era Dolar Digital Baru
Proyek Stable merepresentasikan pergeseran strategi Tether dari "parasitik" menuju "otonom", dengan tujuan membangun infrastruktur untuk era dolar digital yang akan datang.
Dengan menjadikan USDT sebagai token gas native, Stable berupaya mengatasi dua tantangan utama: kebocoran nilai dan risiko platform.
Fase kedua kampanye pra-deposit yang akan datang bukan hanya menjadi ujian daya tarik komunitas, tetapi juga penilaian penting atas tata kelola dan komitmen proyek terhadap keadilan.
Seiring stablecoin menjadi komponen vital infrastruktur finansial global, apakah Stable dapat menjadi fondasi kokoh bagi imperium Tether adalah pertanyaan yang patut diamati dengan seksama.
Prospek Masa Depan
Evolusi blockchain Stable menandakan bahwa Tether tidak lagi puas hanya menjadi "penyewa" di blockchain lain, melainkan bertekad membangun kedaulatan finansialnya sendiri.
Perbaikan aturan pada fase kedua kampanye pra-deposit menunjukkan bahwa tim telah mendengar kekhawatiran komunitas, namun ujian sesungguhnya akan terjadi setelah peluncuran pekan depan—apakah langkah-langkah ini benar-benar dapat memastikan alokasi yang adil masih harus dibuktikan.


