Saya baru saja teringat sebuah kisah yang tidak bisa saya lupakan. Roy Lee Dennis lahir pada tahun 1961 dengan kondisi medis yang sangat langka sehingga para dokter hampir menyerah padanya di awal. Displasia kraniodiaphyseal – sebuah penyakit yang mungkin hanya mempengaruhi satu dari ratusan juta orang. Tulang wajahnya tumbuh secara deformasi, dan prognosisnya suram: kebutaan, tuli, hidup singkat.



Tapi inilah halnya – Roy, yang dipanggil Rocky, hanya menolak mengikuti skenario yang telah mereka tulis untuknya. Dia mengulang kelas satu dua kali, tetapi belajar membaca. Membuat teman. Ketika mereka menawarkan operasi kosmetik untuk "memperbaiki" penampilannya, dia menolak. Bukan karena naif, tetapi karena memiliki harga diri.

Yang paling mengesankan bagi saya adalah bagaimana dia menghadapi semuanya dengan humor dan belas kasih terhadap orang lain. Dia bukan anak yang penuh kepahitan – dia adalah seseorang yang memahami penderitaan dan memilih merespons dengan empati. Roy Lee Dennis menjadi sosok yang dikasihi, tidak hanya di sekolah tetapi di seluruh komunitasnya.

Dia meninggal pada usia 16 tahun tahun 1978, tetapi kisahnya tidak berakhir di situ. Kasusnya dipelajari di UCLA untuk memajukan kedokteran, dan pada tahun 1985 dibuat film 'Mask' dengan Eric Stoltz sebagai Roy dan Cher sebagai ibunya. Film tersebut menyoroti kisahnya secara nasional.

Lebih dari 40 tahun kemudian, Roy Lee Dennis tetap menjadi simbol dari sesuatu yang sangat kita butuhkan: keberanian untuk menjadi diri sendiri, tanpa meminta maaf. Tanpa alasan.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Sematkan